Show Mobile Navigation

Senin, 07 Mei 2012

TATALAKSANA KEGIATAN MANAGEMEN TERNAK (SAPI PERAH)

Bagus L.O.G - 04.36



Pemeliharaan sapi perah, terdapat beberapa factor yang mempengaruhi produksi susu antara lain : mutu genetic, pakan, tata laksana pemeliharaan , penanganan dan pencegahan terhadap penyakit. 
Penanganan atau pengobatan terhadap penyakit pada sapi perah  diantaranya menggunakan antibiotika
Membersihkan Sapi
Sapi-sapi yang sedang dipelihara dan sedang berproduksi hendaknya dibersihkan badannya, selain supaya menghasilkan susu yang bersih juga sapi-sapi supaya tetap sehat. Sapi-sapi betina yang diperah hendaknya disikat tiap hari untuk menghilangkan rambutrambut yang gugur. Rambut-rambut yang panjang tumbuh pada ambing, kaki bagian belakang dan bagian belakang dari daerah lipat paha hendaklah digunting pendek untuk mencegah adanya kotoran-kotoran yang menempel padanya, sehingga menjaga kemungkinan adanya kotoran yang dapat jatuh ke dalam air susu pada waktu sapi tersebut diperah.
Membersihkan Kandang 
Sebelum sapi diperah kandang tempat di mana sapi itu hendak diperah harus dibersihkan atau dicuci dulu dan dihilangkan dari bau-bauan, baik yang berasal dari kotoran sapi maupun dari makanan atau hijauan yang berbau (silage). Karena air susu itu mudah sekali menyerap bau-bauan yang dapat mempengaruhi kualitas air susu. Sebaiknya sapi yang hendak diperah diberikan makanan penguat lebih dulu, supaya sapi tersebut dalam keadaan tenang. Jangan diberikan rumput atau hijauan lainnya sebelum atau selama diperah untuk menjamin air susu yang dihasilkan tetap bersih dan mempunyai kualitas yang baik.
Pemberian Pakan dan Minum
Pakan sapi perah umumnya dibagi tiga, yaitu : 
(1) Hijauan, yaitu berupa rumput-rumputan, seperti rumput gajah ( Pennisetum purpureum ), rumput raja ( King grass ), setaria, benggala (Penisetum maximum ), rumput lapangan dan BD ( Brachiara decumbens ); 
(2) Kacang-kacangan, seperti lamtoro, turi, gamal; 
(3) Limbah pertanian, seperti jerami padi,jerami jagung, jerami kedelai dll.Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30 - 50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi perah dewasa umumnya diberikan sebanyak ± 10 % dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1 - 2 % dari BB. Sapi yang sedang menyusui ( laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25 % hijauan dan konsentrat dalam ransumnya.Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang - kacangan ( legum ). Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa sertamineral ( sebagai penguat ) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1 - 2 ekor/ekor/hari. Selain makan, sapi perah juga harus diberi air minum sebanyak 10 % dari berat badan per hari.Pemberian pakan dan minum bagi sapi perah, dapat diberikan sebagai berikut :1. Pakan hijauan diberikan 2 - 3 kali sehari yaitu pagi dan siang sesudah pemerahan. Pakan hijauan diberikan sebanyak ± 10 % dari berat badan (BB);·         
2. Pakan konsentrat diberikan dalam keadaan kering, sesudah pemerahan 1 - 2 kali sehari sebanyak 1,5 - 3 % dari berat badan (BB);
 3. Air minum disediakan secara tidak terbatas (ad libitum ).

Pemerahan
untuk mendapatkan susu yang memenuhi SNI (Standart Nasional Indonesia), pada peternakan sapi perah dilakukan management pemerahan agar susu yang dihasilkan mengandung bakteri seminimal mungkin. Hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kualitas susu dari pencemaran bakteri adalah dengan menerapkan sistem manajemen sapi perah. Langkah yang dilakukan untuk menjaga kualitas susu adalah bisa dimulai dari awal persiapan pemerahan seperti membersihkan kandang dan memandikan sapi, saat pemerahan berlangsung sampai penanganan susu pasca pemerahan.
A. Pra-pemerahan        
Alat-alat yang diperlukan untuk pemerahan susu harus disiapkan terlebih dahulu, yaitu ember yang bermulut sempit untuk penampung susu, milk can, saringan dan alat uji mastitis, dipersiapkan dalam keadaan kering dan bersih. Alat-alat sebelumnya dicuci menggunakan air bersih bila perlu menggunakan deterjen dan dibilas dengan air panas (60-70oC) untuk membunuh mikroba dan melarutkan lemak susu yang menempel pada alat-alat, selanjutnya alat-alat dikeringkan. Peralatan yang tidak bersih dapat mengakibatkan susu mengandung banyak mikroba. Ambing sapi dan daerah lipatan paha sapi terlebih dahulu dibersihkan dengan kain bersih yang telah dibasahi air bersih hangat. Pemerahan menggunakan tangan, maka untuk menghindari ekor sapi mengotori susu, ekor sapi diikat, dan rambut daerah lipatan paha sapi perah diguntung untuk menghindari jatuhnya rambut ke dalam susu sehingga menjamin kebersihan susu. Sebelum Melakukan Proses Pemerahan
Sebelum melakukan proses pemerahan yang harus dilakukan adalah melakukan pemerahan awal, untuk mengetahui apakah ternak mengidap penyakit mastitis.Pemerahan awal adalah mengeluarkan 3 – 4 pancaran susu dari masing-masing puting dengan tujuan : - Mengeluarkan air susu yang kotor. Mikroba berkumpul pada susu yang pertama kali diperah.
- Mengetahui adanya perubahan pada susu.
- Merangsang pengeluaran susu.
- Mengetahui adanya perubahan pada susu. - Merangsang pengeluaran susu. - Mengetahui adanya perubahan pada susu. - Merangsang pengeluaran susu. - Mengetahui adanya perubahan pada susu. - Merangsang pengeluaran susu.Strip cup, mangkok atau gelas yang dasarnya berwarna hitam merupakan alat untuk melaksanakan pemerahan awal.Cara melakukan pemerahan awal : - Masukkan 3 – 4 pancaran susu dari masing-masing puting ke dalam strip cup. - Perhatikan keadaan susu : Apakah ada perubahan warna, terbentuk butiran-butiran halus atau penggumpalan (susu pecah). - Bersihkan strip cup dan pakai kembali untuk memeriksa ternak yang lain - Susu yang pecah menandakan bahwa ternak tersebut terkena mastitis.       Pastikan susu dipancarkan masuk kedalam strip cup. Jangan membuang susu ke lantai kandang. Pemerahan dimulai dari ternak perah dan ambing yang sehat. Ternak yang terkena mastitis diperah terakhir. Susu yang berasal dari sapi penderita mastitis harus dibuang. Pada seekor ternak perah, kegiatan membersihkan ambing harus langsung diikiuti dengan kegiatan memerah agar hormon oksitosin bekerja optimal. Jika tidak langsung diikuti dengan pemerahan dalam jangka waktu lebih dari 6 – 7 menit, maka hormon oksitosin yang keluar tidak akan bekerja maksimal
.B. Pemerahan      
Bagi pelaksana pemerahan, maka perlu mempersiapkan kondisi fisik yang sehat, sudah mencuci tangan dan menggunakan pakaian pemerahan yang bersih, dan sebaiknya menggunakan topi. Perlu juga diperhatikan kuku jari tangan, agar dipotong pendek untuk menghindari luka pada puting selama proses pemerahan. Selama proses pemerahan, maka pemerah dilarang merokok, bersiul, makan makanan ringan, dan bersenda gurau, ataupun mengeluarkan suara bising yang dapat menggangu ketenganan sapi ,serta berikan pakan penguat sebelum melakukan pemerahan agar ternak dalam kondisi tenang saat pemerahan berlangsung.
Teknik pemerahan Pemerahan Menggunakan Tangan (“hand milking”) Metode pemerahan dengan tangan terdiri dari tiga metode, yaitu metode full hand (seluruh jari), knevelen dan strippen. Pemerahan dengan menggunakan seluruh jari biasanya dilakukan pada sapi yang mempunyai ambing dan puting yang panjang dan besar. Pemerahan dilakukan dengan cara puting dipegang antara ibu jari dengan jari telunjuk pada pangkal puting menekan dan meremas pada bagian atas, sedangkan ketiga jari yang lain menekan dan meremas bagian tubuh puting secara berurutan, hingga air susu memancar keluar dan dilakukan sampai air susu dalam ambing habis. Selang waktu pemerahan harus diatur agar selalu konstan. Umumnya pemerahan dilakukan sebanyak dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Namun, jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi, siang dan sore hari. Selang pemerahan dapat menentukan jumlah susu yang dihasilkan. Jika jaraknya sama, yakni 12 jam, maka jumlah susu yang dihasilkan pada pagi dan sore hari akan sama. Namun, apabila jarak pemerahan tidak sama, maka jumlah susu yang dihasilkan pada sore hari akan lebih sedikit daripada susu yang dihasilkan pada pagi hari.C. Setelah Pemerahan atau (pasca pemerahan)       
Ternak sapi yang telah diperah harus segera diolesi larutan iodin pada masing-masing putingnya. Hal ini untuk menghindari infeksi mikroba yang dapat menyebabkan radang pada ambing. Puting yang baru selesai diperah belum menutup secara sempurna, sehingga memudahkan masuknya mikroba dari lingkungan. Segera setelah proses pemerahan selesai, semua peralatan yang digunakan harus dicuci hingga bersih. Pencucian dengan cara menggunakan deterjen, kemudian dibilas dengan air dingin, dan terakhir dibilas dengan air panas. Kemudian peralatan disimpan kembali di tempat yang bersih.Produk susu yang dihasilkan juga harus segera ditangani dengan benar. Hal ini disebabkan susu adalah produk yang mudah rusak dan terkontaminasi. cara penanganan air susu sesudah pemerahan adalah sebagai berikut:  
1.      Air susu hasil pemerahan harus segera dikeluarkan dari kandang untuk menjaga jangan sampai susu tersebut berbau sapi atau kandang. Keadaan ini penting terutama jika keadaan ventilasi kandang tidak baik. 
2.      Air susu tersebut disaring dengan saringan yang terbuat dari kapas atau kain putih dan bersih, susu tersebut disaring langsung dalam milk can. Segera setelah selesai penyaringan milk can tersebut ditutup rapat. Kain penyaring harus dicuci bersih dan digodok kemudian dijemur. Bila kain penyaring tersebut hendak dipakai kembali sebaiknya disetrika terlebih dahulu. 
3.      Tanpa menghiraukan banyaknya kuman yang telah ada, air susu perlu didinginkan secepat mungkin sesudah pemerahan dan penyaringan sekurang-kurangnya pada suhu 4–7oC selama 2 atau 3 jam/segera di setorkan ke pos penanmpungan karena Susu merupakan bahan yang mudah terkontaminasi oleh mikroba dari lingkungan, dan juga susu mudah menyerap bau-bauan yang berasal dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu segera di bawa ke pendingin atau cooling unit,Pendinginan susu bertujuan untuk menahan mikroba perusak susu agar jangan berkembang, sehingga susu tidak mengalami kerusakan dalam waktu yang relatif singkat.
Pencegahan Penyakit Tindakan pertama yang dilakukan pada usaha pemeliharaan sapi perah adalah melakukan pencegahan terjangkitnya penyakit pada ternak. Beberapa langkah pencegahan adalah sebagai berikut :
1.      Lahan yang digunakan untuk memelihara sapi perah harus bebas dari penyakit menular. 
2.      Kandang sapi perah harus kuat, aman dan bebas penyakit. Apabila digunakan kandang bekas sapi yang telah terserang penyakit, kandang cukup dicucihamakan dengan disinfektan, kemudian dibiarkan beberapa saat.
3.      Sapi yang baru masuk sebaiknya dimasukkan  ke kandang karantina dulu dengan perlakuan khusus. Ternak yang diduga bulunya membawa penyakit sebaiknya dimandikan dan digosok dengan larutan sabun karbol, Neguvon, Bacticol Pour, Triatex atau Granade 5% EC dengan konsentrasi 4,5 gram/3 liter air. Untuk membasmi kutu, sapi dapat juga dimandikan larutan Asuntol  berkonsentrasi 3-6 gram/3 liter air.
4.      Kandang dan lingkungan tidak boleh lembab dan bebas dari genangan air. Kelembaban yang tinggi dan genangan air mengakibatkan perkembangan nyamuk atau hewan sejenis yang menggigit dan menghisap darak ternak.
5.      Dilakukan vaksinasi secara teratur. Vaksinasi bertujuan untuk mencegah terjangkitnya penyakit oleh Virus.
Penangan PenyakitAda 
beberapa penyakit yang sering kami jumpai atau kasus-kasus yang peternak sapi perah yang kami ikuti.Berikut beberapa jenis penyakit pada sapi perah dan  serta penanganannya
A. Mastitis atau Radang Ambing
Mastitis atau radang ambing merupakan penyakit terpenting pada sapi perah, tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia. Mastitis merupakan peradangan kelenjar susu yang disertai dengan perubahan fisik, kimiawi dan mikrobiologi. Secara fisis pada air susu sapi penderita mastitis klinis terjadi perubahan warna, bau, rasa dan konsistensi. Mastitis dipengaruhi oleh interaksi 3 faktor yaitu ternak itu sendiri, mikroorganisme penyebab mastitis dan faktor lingkungan. Menurut para ahli penyebab utama mastitis adalah kuman Streptococcus agalactiae, Streptococcus dysagalactae, Streptococcus uberis, Stafilokokus aureus dan Koliform. Faktor lingkungan, terutama sanitasi dan higienis lingkungan kandang tempat pemeliharaan, posisi dan keadaan lantai, sistem pembuangan kotoran, sistem pemerahan, iklim, serta peternak itu sendiri dan alat yang ada. Gejala klinis mastitis nampak adanya perubahan pada ambing maupun air susu. Misalnya bentuk yang asimetri, bengkak, ada luka, rasa sakit apabila ambing dipegang, sampai nantinya mengeras tidak lagi menghasilkan air susu jika sudah terjadi pembentukan jaringan ikat. Pada air susu sendiri terjadi perubahan bentuk fisik maupun kimiawi
Tindakan Penanganan
Usaha untuk mengatasi mastitis sebaiknya ditekankan pada usaha pencegahan. Dengan memperhatikan faktor-faktor predisposisi dan melakukan sanitasi secara teratur dan benar baik  terutama terhadap kandang dan peralatan serta memperhatikan kesehatan pekerja khususnya pemerah. Kebersihan kandang, kebersihan sapi, jumlah sapi dalam kandang, cara pemberian air susu pada pedet, metode pemerahan, pemberian desinfektan pada puting setelah pemerahan merupakan sebagaian masalah yang belum dapat diatasi oleh peternak kita. Pengobatan dilakukan dengan memperhatikan jenis antibiotika, jumlah yang digunakan, aplikasinya,. Antibiotika ada yang bersifat long acting maupun jangka pendek, begitu juga cara  pemberiannya. Beberapa antibiotika yang biasa digunakan antara lain Penisilin, Streptomisin, Ampisilin, kloksasilin, neomisin, oksitetrasiklin, tetrasiklin.
B. Diare (mencret)
Penyakit ini sering terjadi terutama pada musim penghujan. Penyebab diare antara lain mikroorganisme yang mencemari kandang, karena kandang kurang bersih, becek, ventilasi kurang baik dan lain-lainnya. Kadang-kadang pemberian pakan yang tidak teratur dan cacingan juga menjadi penyebab diare.
Tindakan Penanganan
Cara mengatasinya adalah memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Pengobatan dapat dilakukan secara sementara dengan obat tradisional misalnya daun jambu biji. Jika mencret terus menerus upayakan setidaknya ternak mendapatkan minum (tambahkan gula dan garam) sebagai pengganti cairan tubuh
.C. Endometritis
Endometritis merupakan peradangan pada lapisan mukosa uterus (Boden 2005). Menurut Ball dan Peters (2004), endometritis merupakan peradangan pada endometrium dan membran mukosa uterus yang sering disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Endometritis pada ternak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu endometritis klinis dan endometritis subklinis. Secara klinis, endometritis lebih prevalen pada sapi-sapi yang mature. Sapi dengan endometritis dapat didiagnosa berdasarkan palpasi perektal dengan hasil berupa tidak terabanya struktur ovarium. Sedangkan endometritis subklinis dapat didefinisikan sedagai inflamasi pada uterus yang biasanya ditentukan dengan pemeriksaan sitologi, tidak adanya eksudat purulenta di vagina. Endometritis subklinis biasanya terjadi ketika proses involusi sudah lengkap (sekitar 5 minggu pospartus). Beberapa penyakit yang berkaitan dengan kondisi endometritis pada sapi diantaranya adalah brucellosis, leptospirosis, campylobacteriosis, dan trichomoniasis. Selain itu, endometritis juga disebabkan oleh infeksi yang nonspesifik. Mikroorganisme penyebab endometritis pada sapi adalah Brucella sp., Leptospira sp., Campylobacter, Trichomonas, Arcanobacterium (Actinomyces) pyogenes, dan Fusobacterium necrophorum atau organisme gram negatif anaerob lainnya (Anonim 2008a). Uterus normal merupakan lingkungan yang bersifat steril, sedangkan vagina merupakan lingkungan yang tidak steril karena mengandung banyak mikroorganisme. Patogen yang bersifat oportunistik dari flora normal vagina atau dari lingkungan luar dapat masuk ke dalam uterus. Uterus pada kondisi normal dapat melakukan pembersihan secara efisien terhadap mikroorganisme yang masuk dari vagina atau lingkungan luar. Namun, uterus pada saat postpartus biasanya terkontaminasi oleh beragam mikroorganisme dan ketika terjadi infeksi yang bersifat persisten, maka infeksi akan berkembang menjadi endometritis kronis atau subakut dan kondisi ini akan merusak fertilitas ternak (anonim 2008a).
Tindakan Penanganan
treatmen endometritis pada sapi dapat dilakukan dengan infusi antimicrobial secara intrauterine. Selain dapat membersihkan bakteri dalam uterus, infusi antimikrobial intrauterine juga dapat memperbaiki fertilitas sapi. Selain itu juga dilakukan pemberian abtibiotik secara infusi yang berupa tetrasiklin serta dihydrostreptomycin sulphate dengan rute intrauterine untuk mengatasi endometritis ringan.
D. Penyakit akibat kekurangan kalsium
Penyakit yang di akibatkan kekurangan kalsium terutama pada sapi yang sedang bunting bisa berakibat sapi ambruk. Umumnya pada sapi yang sedang bunting kebutuhan akan kalsium harus di tambah karena kalsium sebagian di serap untuk pertumbuhan janin dan memperkuat tulang si  induk sehingga sanggup menopang berat janin.
Tindakan Penanganan
Pemberian kalsium tambahan terutama apabila si induk kekurangan pakan atau pakan dengan gizi yang kurang bagus.
E. Penyakit myiasis
 Myiasis adalah infestasi larva lalat pada jaringan tubuh hewan yang masih hidup, disebabkan oleh larva lalat fakultatif dan atau obligat. Kejadian Myiasis di Indonesia teridentifikasi disebabkan oleh larva lalat : Chrysomia benziana, Booponus intonsus, Lucillia, Calliphora, Musca dan Sarcophaga. Genus Chrysomia yang memegang peranan penting dalam kasus myasis yaitu Chrysomia megacephala danChrysomia bezziana. 
Gejala klinis yang teramati mula-mula terlihat luka kecil yang didalamnya terlihat ada larva lalat, lama-kelamaan karena diperparah oleh infeksi sekunder  menyebabkan terjadinya pembusukan dan pembentukan nanah sehingga akhirnya terjadi borok yang mengeluarkan cairan dan berbau busuk. Gejala klinis lainnya sesuai dengan kelainan fungsi dari bagian tubuh yang terkena myiasis (misalnya jika terjadi myiasis pada kaki gejalanya pincang, jika terjadi pada daerah kepala  berjalan dengan kepala miring dsb) serta diikuti oleh gejala umum lainnya seperti hewan menjadi tidak tenang, nafsu makan menurun, lemah, letih, lesu, suka bersembunyi menghindari lalat. Selain itu gejala klinis lainnya yaitu berupa radang, anemia, tidak tenang sehingga mengakibatkan ternak mengalami penurunan bobot badan dan produksi susu, kerusakan jaringan, infertilitas, hipereosinofilia serta peningkatan suhu tubuh.  Tindakan Penanganan 
1.       Bersihkan luka dengan antiseptik yang ada
2.       Keluarkan larva dari dalam luka dengan cara dicabuti, tetapi sebelumnya larva harus dibunuh dulu menggunakan insektisida seperti (Coumaphos, Diazinon, Ivermectin) 
3.       Setelah larvanya habis dicabuti, berikan salep (Diazinon atau Coumaphos) 2% dalam vaselin  dioleskan langsung disekitar borok untuk untuk mencegah infeksi ulang 
4.       Untuk mencegah infeksi sekunder diberikan antibiotik (penicilin 20.000 IU/Kg bb) dan sulfanilamida serbuk. 
5.       Untuk mempercepat kesembuhan luka dapat diberikan minyak ikan karenamengandung vitamin A dan D yang bagus untuk regenerasi kulit. 
6.       Pengobatan myiasis yang dilakukan di lapangan di Sumba Timur menggunakan karbamat dan Echon. Kedua preparat ini cukup berbahaya karena merupakan insektisida sistemik sehingga banyak dilaporkan adanya keracunan pada ternak pascapengobatan
7.      Disamping itu, digunakan juga obat-obat tradisional yaitu tembakau, batu baterai yang dicampur dengan oli, selanjutnya dioleskan pada luka. Pengobatan dengan cara ini ditujukan untuk mengeluarkan larva dari luka tetapi berakibat iritasi pada kuhit
8.      Campuran dari 50 g yodium, 200 ml alkohol 75% dan 5 ml Ecoflee° yang selanjutnya ditambah air hingga satu liter . Ramuan ini langsung disemprotkan pada luka yang mengandung larva sehingga larva keluar dan luka menjadi mengecil . pengobatan ini dilakukan 2x seminggu
9.      Beberapa insektisida botanis dari biji srikaya dan mindi, minyak atsiri, seperti minyak atsiri nilam dan akar wangi j uga telah dicoba secara in vitro sebagai insektisida botanis dan terbukti mampu mematikan larva C. bezziana 
10.  pemanfaatan Bacillus thuringiensis untuk dijadikan bioinsektisida







membuat ransum ternak sapi

Bagus L.O.G - 03.55
PAKAN TAMBAHAN (KONSENTRAT)

            Penambahan konsentrat pada sapi bertujuan untuk meningkatkan nilai pakan dan menambah energi. Tingginya pemberian pakan berenergi menyebabkan peningkatan konsumsi dan daya cerna dari rumput atau hijauan kualitas rendah. Selain itu penembehan konsentrat tertentu dapat menghasilkan asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Penambahan konsentrat tertentu dapat juga bertujuan agar zat makanan dapat langsung diserap di usus tanpa terfermentasi di rumen, mengingat fermentasi rumen membutuhkan energi lebih banyak.
            Berdasarkan kandungan gizinya, konsentrat dibagi dua golongan yaitu konsentrat sebagai sumber energi dan sebagai sumber protein. Konsentrat sebagai sumber protein apabila kandungan protein lebih dari 18%, Total Digestible Nutrision (TDN) 60%. Ada konsentrat yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Berasal dari hewan mengandung protein lebih dari 47%. Mineral Ca lebih dari 1% dan P lebih dari 1,5% serta kandungan serat kasar dibawah 2,5%. Contohnya : tepung ikan, tepung susu, tepung daging, tepung darah, tepung bulu dan tepung cacing. Berasal dari tumbuhan, kandungan proteinnya dibawah 47%, mineral Ca dibawah 1% dan P dibawah 1,5% serat kasar lebih dari 2,5%. Contohnya : tepung kedelai, tepung biji kapuk, tepung bunga matahari, bungkil wijen, bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit dll. Konsentrat sebagai sumber energi apabila kandungan protein dibawah 18%, TDN 60% dan serat kasarnya lebih dari 10%. Contohnya : dedak, jagung, empok, polar dll.

Program Pemberian Pakan Ternak Sapi
            Pemberian pakan ternak disesuaikan dengan umur, berat badan dan produksinya. Umumnya pada masa pertumbuhan dan produksi membutuhkan protein dan energi lebih banyak dibanding masa lainnya. Sapi yang sedang berproduksi disediakan pakan berdasarkan berat badan, produksi susu dan kandungan lemak susu.
            Pada anak sapi kolostrum atau susu induk diberikan mulai umur 2 hari sampai dengan 3,5 bulan. Pemberian kolostrum mulai umur 2 hari sampai 4 minggu ditambah sedikit demi sedikit, kemudian setelah 4 minggu dikurangi sedikit demi sedikit, sedangkan hijauan diberikan sejak umur 2 minggu dengan cara sedikit demi sedikit ditambah. Supaya tidak terjadi kekurangan mineral Mg maka mulai umur 2 minggu sudah diberikan hijauan dan umur 4 minggu ditambahkan konsentrat.

Tabel : Program Pemberian Pakan pada Pedet
Anak Sapi
Kolostrum (l)
Rumput Segar (Kg)
Konsentrat (Kg/hari)

2-4 hari
4-7 hari
2 minggu
3 minggu
4 minggu
1,5 bulan
2 bulan
2,5 bulan
3 bulan
3,5 bulan

2-3
4
5
6
6
4-5
3-5
2-3
2
1
-
-
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,8
1
-
-
-
-
0,25
0,50
0,75
0,90
1
1
            Setelah umur 3,5 bulan, pemberian hijauan berkisar 10% dari berat badan dan konsentrat sebanyak 1% dari berat badan sapi.
            Konsentrat yang baik apabila terdiri dari bermacam macam bahan pakan supaya mendapatkan asam amino yang lengkap. Untuk pembuatan konsentrat harus diperhatikan bahan pakan yang digunakan sebagai penyusun ransum, baik dalam cara penyediaan maupun kandungan gizinya. Perlu diperhatikan pada pemberian jagung  harus diimbangi dengan pemberian bahan yang berasal  dari kedelai, pada pemberian bahan  yang berasal dari kedelai sebaiknya dimasak terlebih dahulu,karena kedelai mengandung zat anti tripsin yang rusak bila kena panas. Konsentrat  pada sapi diberikan sesuai dengan tipenya. Sapi perah yang berproduksi  tinggi yang kadar lemak yang diinginkan tinggi maka membutuhkan protein tertinggi. Sedangkan protein sangat sedikit dibutuhkan pada sapi yang sedang masa kering. Program perhitungan pakan pada sapi biasanya dihitung berdasarkan bahan kering.
CONTOH: PEMBUATAN KONSENTRAT PEDET YANG MASIH DIBERI KOLOSTRUM

BERAT BADAN (Kg)
PRODUKSI SUSU
 (l)
LEMAK SUSU (%)
KEBUTUHAN UNTUK SAPI
PROTEIN (Gr)
ME(M. Kal)
TDN
(Kg)
350
10
3
1111
21,46
16,82

15

1496
26,81
18,23

20

1881
32,16
19,64

25

2266
37,51
21,05
400
10
3
1143
22,6
17,82

15

1528
27,95
19,23

20

1913
33,33
20,64

25

2298
38,65
22,05



1        bagian Bungkil kedelai
2        bagian bekatul/ Kacang hijau
          Digiling halus
1        bagian kacang tanah
2           bagian jagung


Tabel kebutuhan Zat zat gizi Untuk Hidup pokok dan produksi sapi perah
BERAT BADAN
UNTUK HIDUP POKOK
KADAR LEMAK SUSU
UNTUK PRODUKSI 1 KG SUSU
PROTEIN (Gr)
ME
(M. Kal)
TDN (Kg)
LEMAK SUSU (%)
PROTEIN (Gr)
ME
(M.Kal)
TDN (Kg)
350
341
10,76
14
2,5
72
0,99
0,260
400
373
11,90
15
3,0
77
1,07
0,282
450
403
12,99
17
3,5
82
1,16
0,304
500
432
14,06
18
4,0
87
1,24
0,326
550
461
15,11
20
4,5
92
1,31
0,344
600
489
16,12
21
5,0
98
1,39
0,369

Perhitungan Kebutuhan protein dan energi berdasarkan Berat badan sapi dan produksi susu serta kandungan lemak susu berdasarkan tabel:
Misalnya Bert badan sapi 350 Kg,produksi susu 10 liter dengan kandungan lemak 3% maka:
            Kebutuhan protein : 341 + (10X77) =1111 gram
            Kebutuhan ME      : 10,76 + (10X1,07) =21,46 M Kal
            Kebutuhan TDN    : 14 + (10 X 0,282) =18,82 Kg

Tabel :  Kebutuhan Protein dan Energi pada Sapi perah Berdasarkan BeratBadan, Produksi dan kandungan lemak susu  

            Pembuatan ransum sapi perah untuk memenuhi kebutuhan protein berdasarkan metode bujur sangkar latin.
Contoh : Sapi dengan berat badan 350 Kg berproduksi 15l/hari dengan kadar lemak 3,5%. Sapi diberi pakan hijauan rumput 20 Kg dan gamal 8 Kg, konsentrat kandungan protein 16% yang terdiri bungkil kelapa dan dedak. Kandungan protein rumput 1,6% dengan BK 21% sedangkan gamal dengan kandungan protein 25,2% dan BK 13,1%. Dedak mengandung protein 13% dengan BK 85,7%, bungkil kelapa mengandung protein 21,2%  dan BK b7,9%. Berapa bungkil kelapa dan dedak yang harus diberikan ?
Perhitungan :
 
Berdasarkan tabel maka kebutuhan protein untuk sapi tersbt =341+(15x82) = 1571 gram.
Protein dari rumput                             =  20x21/100x9,6/100x1 kg =  0,0672 Kg.
                                      Gamal            =  10x13,1/100x25,2/100x1 kg  =  0,33 Kg
Kekurangan protein dan gamal                        =  0,0673 kg + 0,33 kg  =  0,397 Kg        397 Gr
Kekurangan Protein =  1571 – 397  =  1174 Gram yang harus dipenuhi oleh konsentrat. Dari 841 maka konsentrat (16%) yang diberikan semisal Y gram maka = 16/100Y= 1174 jadi Y= 1174 00/16 = 7337,5 gram.
Protein dari dedak padi = 85,7/100x13 = 11,1%.
Protein dari Bungkil Kelapa = 87,9/100x21,2 = 18,6%.

dedak padi            11,1         2,6     
                                      16
bungkil kelapa       18,6         4,6
                                        ---------
                                            7,5

PEMBUATAN  RANSUM SAPI BERDASARKAN METODE PERSAMAAN
SAPI POTONG
Sapi dengan berat badan 300 Kg ingin dinaikkan berat badannya 1,3 kg/hari.
Langkah pertama lihat tabel kebutuhan, ternyata sapi tersebut membutuhkan : BK 1,1 Kg ; Total protein 0,89 kg. ME 21,60 Mcal, Calsium 0,029 kg; Fosfor 0,023 kg, Carotin 40 mg.
Langkah kedua menentukan berapa rumput/hay yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan Bahan Kering, dengan cara menghitung. Pada ransum ini digunakan hay dengan bahan kering 90%. Jadi hay yang digunakan 1,1/90x100 = 2,2 kg.
Langkah berikutnya menentukan berapa Total Protein (TP), Energi (ME), Ca, P dan Carotin dari Hay sebanyak 1,22 kg, yang sebelumnya dilihat di tabel komposisi nutrisi bahwa hay mengandung total protein 5,4%, ME 1,77 Mcal/kg, Ca 0,39%, P 0,18% dan Carotin 95 mg?kg. Setalah dihitung ternya dari 1,22 kg hay diperoleh : TP = 5,4/100x1,22 kg = 0,066 kg, ME = 1,77x1,22 kg = 2,16 kg, Ca = 0,39/100x1,22 kg = 0,005 kg; P = 0,18/100x1,22 kg = 0,002 kg dan Carotin 95 mg/kgx1,22 kg = 115,9 mg. Kekurangan ME = 19,44 Mcal dapat dipenuhi dari jagung yang mempunyai kandungan ME 3,03 Mcal/kg  jagung yang digunakan sebanyak = 19,44 Mcal/3,03 Mcal/kg = 6,42 kg. Kekuranganya dipenuhi oleh jagung (X kg) dan B. Kedelai (Y kg). Langkah berikutnya dibuat persamaan untuk memenuhi ME dan TP.

 
ME ---------- 3,03X + 2,94Y = 19,44 (x 0,096) --- 0,290X + 0,282Y   = 1,866
TP ----------- 0,096X +0,446Y = 0,764 (x 3,03) --- 0,290X + 1,351Y = 2,315
                                                                                      --------------------------------
                                                                                                1,069 Y = 0,449
                                                                                     Y = 0,42 kg
=  3,03X + 2,94 (0,42) = 19,44
    3,03X + 1,235 = 19,44
    3,03X = 19,44 – 1,235
           X = 18,205/3,03
                                X = 6,01 kg          



TP
ME
Ca
P
Carotin

Hay (tabel)
5,4 %
1,77 Mcal/kg
0,30 %
0,18 %
95 mg/kg

Jagung (tabel)
9,6 %
3,03 Mcal/kg
0,03 %
0,26 %
2,0 mg/kg

Bungkil Kedelai
44,6 %
2,94 Mcal/kg
0,3 %
0,62 %
0
Kebutuhan Sapi

0,83 kg
21,6 Mcal
10,029 kg
0,023 kg
40 mg

1,22 kg Hay
0,066 kg
2,16 Mcal
0,005 kg
0,0023 kg
115,9 mg
Kekurangan

0,764 kg
19,44 Mcal
0,024 kg
0,002 kg
0,0

6,01 kg Jagung
0,577 kg
18,21 Mcal
0,002 kg
0,021 kg
12

0,42 kg B.Kedelai
0,187 kg
1,23 Mcal
0,001 kg
0,061 kg
0

0,011 kg Delf fosfat
-
-
0,004 kg
0,003 kg
0

0,05 kg limestone
-
-
0,017 kg
-
-


0,83
21,6
0,029
0,023
127,9
Persentasi Kebutuhan

100%
100%
100%
100%
319,8 %

 



Next
Editor's Choice